SETELAH tidak bekerja di Telkom, Kentjana merasa tidak lagi dikejar-kejar waktu. Dia bisa lebih mencurahkan waktu untuk anak-anak dan suami. Dia merasa leluasa mendampingi suami ketika menjadi Pangdam di Kalimantan dan di mana pun suaminya, Sang Nyoman Suwisma ditempatkan. Namun, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan, sosial maupun bisnis.
Misalnya, dalam kegiatan bisnis. Kegiatan itu telah lama dite-kuninya, namun hanya dalam skala kecil dan terbatas di lingkungan kantor tempatnya bekerja. “Dulu saya juga suka jualan di kantor. Macam-macam barang saya bawa, kompor, seprei sampai kain batik. Yang membeli teman-teman, dengan mengangsur. Pak Wis tidak tahu. Kalau tahu pasti saya ditegur. Jadi, mobil saya itu, dulu, selain penuh perlengkapan saya dan pekerjaan kantor, juga berisi barang dagangan,” tutur Ny Ken sembari tertawa.
Menurutnya, apa yang ia lakukan juga merupakan persiapan masa de-pan, ketika ia maupun suami pensiun. “Saya memang harus bisa mengelola yang kami miliki untuk masa depan. Karenannya, saya membangun berbagai bisnis, meski dalam skala kecil, seperti home industry dan rumah kontrakan,” tambahnya.
Ketika ia membeli tanah kemudian dibangun rumah kontrakan, atau saat membangun kebun kelapa sawit, Pak Wis baru tahu setelah usaha-usaha tersebut berjalan baik. Apa yang ia lakukan itu, dirasakan Ny Ken sangat bermanfaat, khususnya setelah ia pensiun dini dari Telkom. Setelah pensiun ia punya banyak waktu untuk mengembangkan talentanya itu, termasuk berbisnis kue dan roti. “Penghasilan suami cukup, saya juga menerima uang pensiun. Kegiatan ini selain saya sukai, juga untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu lewat kegiatan ini saya bisa membantu memberdayakan orang-orang di lingkungan saya yang tidak bekerja,” tutur mantan Manajer Pembangunan PT Telkom ini.
Suaminya tidak pernah melarang Ny Ken mengikuti berbagai kegiatan, sepanjang masih sebatas kewajaran. “Contoh, saya terima undangan reuni dengan teman-teman Trisaskti. Beliau mengizinkan. “Silakan, asal handphone dibuka,” pesan Pak Wis. Maksudnya supaya saya mudah dihubungi. Hal itu juga berlaku dalam kegiatan lain. Karenannya, saya tak henti-hentinya bersyukur dikaruniai suami yang penuh pengertian dan bijaksana seperti beliau,” tuturnya.
Bapak Dibela Anak
Selama 27 tahun berumah tangga, tutur Ny Ken, nyaris tak ada masalah berarti dalam keluarganya. Suwisma, di mata Ny Ken, sosok penyabar. Malah, dulu dirinyalah yang kadang bikin gara-gara, misalnya, kesal pada suami atau ngambek karena sesuatu hal. Menanggapi hal tersebut, biasanya, suaminya tak banyak berkomentar. “Awalnya saya merasa kekesalan saya kurang ditanggapi. Tetapi kemudian saya introspeksi, mengapa harus ribut-ribut, toh tak akan menyelesaikan masalah. Akhirnya saya merasa karakter suami terbawa juga dalam diri saya, lebih tenang dalam menyikapi persoalan,” ujar Ny Ken.
Dulu, kalau ia marah pada suami, justru anak-anaknya yang protes. “Mereka bilang saya keterlaluan. ’Ibu terlalu, Bapak sudah begitu baik, kok Ibu begitu,’ kata anak saya. Karena saya sedang marah, anak bilang begitu, merekalah yang saya marahi. ’Kamu kok malah bela Bapak!’ Eh, anak saya bilang, ’Ibu diingatkan anak kok begitu’. Begitulah anak-anak saya , rata-rata ikut pembawaan bapaknya”.
Perihal cemburu, menurut peng-akuan Ny Ken, jauh dari kehidupan rumah tangganya. “Masa pacaran 11 tahun sudah cukup untuk saling memahami pribadi masing-masing, Saya maupun Pak Wis, bukan tipe pencemburu. Untuk apa cemburu., menghabiskan energi. Yang utama adalah kepercayaan. Semua kembali pada kita. Apa pun yang kita perbuat, pertanggungjawabannya kepada Tuhan. Tuhan Maha Tahu,” tuturnya.
Oleh karena lebih banyak waktu bersama anak-anak ketimbang suami, otomatis tanggung jawab mendidik dan membina anak sebagian besar berada di pundaknya. Namun Ny Ken mengaku tidak menghadapi kesulitan mengasuh ketiga putranya, SN Wikrama, SN Wiranggana, dan SN Wiratama. “Kebetulan ibu saya (Ny Rataya Puspawathy) ikut membantu menjaga anak-anak ketika saya bekerja. Sesekali anak-anak rewel minta saya menemaninya, tetapi itu jarang terjadi. Saya, meski sibuk bekerja, berusaha menyempatkan waktu menemani mereka. Misalnya, saat jam istirahat makan siang, saya pulang untuk makan bersama mereka, atau mengantar mereka ke sekolah atau meminta mereka datang ke kantor saya. Anak-anak saya beri pemahaman bahwa orangtuanya sibuk bekerja untuk mereka, dan mereka, meski saat itu masih kanak-kanak, sepertinya mengerti sehingga jarang rewel,” papar Ny Ken.
Ny Ken mengungkapkan rasa syukurnya ketiga anaknya bisa tum-buh dan berkembang dengan baik. Yang membanggakan, masing-masing memiliki prestasi di bidangnya. “Anak pertama dan kedua tergolong kutu buku. Lebih suka di rumah, belajar. Makanya mereka selalu berprestasi bagus di sekolah. Anak ketiga, lebih menonjol di bidang keseniaan. Kami sebagai orangtua, selalu mendukung apa pun keinginan anak untuk kemajuannya. Namun, kami juga memberi pengarahan jika ada ke-inginannya yang kurang cocok untuk dirinya,” tutur sosok perempuan yang kini aktif sebagai pengurus Yayasan Kanker Payudara Jakarta ini.
Bicara tentang anak-anak, teringat Ny Ken ketika anak bungsunya, Wiratama masih di SMA yang tanpa sepengetahuannya mengikuti tes Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. “Dia tes sampai akhirnya lolos menjadi wakil DKI Jakarta. Dia terpaksa meninggalkan sekolah tiga bulan untuk latihan. Sebagai orangtua saya ikut membantu, misalnya, mencatatatkan pelajaran sekolahnya agar dia tidak ketinggalan pelajaran. Dia berada di karantina, hanya Sabtu kami bertemu. Saya sampai naik sepeda motor untuk bisa melihat anak, karena kangen,” ungkapnya. Sebagai orangtua, hati Ny Ken bangga ternyata anaknya mampu mengikuti semua proses pelatihan sampai akhirnya bisa tampil dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusakan pada upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus.
Hal lain yang juga menyentaknya adalah ketika anak bungsunya terjun ke dunia akting. Sempat tampil di sejumlah sinetron, sebelum akhirnya aktivitas di dunia akting itu terhenti karena Wiratama diterima di Akademi Kepolisian Semarang. (Tokoh)

Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini